Sabtu, 16 Mei 2009

Lycopene, Cegah Penyakit Kronis

Toronto - 27 Sep 00 07:13 WIB - (Astaga!com)

PENYAKIT kronis, termasuk kanker dan penyakit kardiovaskular, adalah penyebab utama kematian di negara berkembang. Faktor genetik, gaya hidup, dan diet juga harus dipertimbangkan sebagai faktor risiko penting penyebab penyakit tersebut. Misalnya saja, sekitar 50% semua jenis kanker disebabkan oleh cara
makan yang salah.
Kerusakan sel oksidatif juga diperkirakan ikut pegang peranan menjadi
penyebab munculnya penyakit-penyakit tersebut. Bagaimana mengatasinya? Mengkonsumsi makanan yang mengandung antioksidan diduga para ahli bisa mengatasi, paling tidak, mengurangi risiko terkena penyakit tersebut. Antioksidan banyak ditemukan pada buah dan sayuran dan buah berwarna, seperti tomat. Buah yang satu ini mengandung lycopene, pigmen karoten yang dikenal sebagai antioksidan yang sangat potensial. Beberapa penelitian telah membuktikan keampuhan lycopene ini. Misalnya dalam the Canadian Medical Association Journal, Sanjiv Agarwal dan Akkinappally Venketeshwer Rao, beberapa waktu lalu menyebutkan bahwa diet yang mengandung tinggi lycopene berpengaruh
positif sebagai pelindung tubuh dari penyakit kronis.
Hal ini jelas sangat menggembirakan. Pasalnya, buah dan sayuran kini sedang gencar-gencarnya direkomendasikan sebagai pola makan yang sehat, ditambah lagi ternyata manfaatnya bisa sebagai pelindung dari penyakit yang kini banyak ditakuti. Tapi kedua ahli tersebut juga menyarankan penelitian lanjutan. "Seperti berapa takaran lycopene yang pas sebagai pelindung dari penyakit kronis tersebut. Atau berapa banyak yang baik bila hanya digunakan sebagai makanan sehat," ujar mereka. (susandijani).

Lima Rahasi Buah Jeruk

MENGAPA jeruk begitu banyak dianjurkan dikonsumsi untuk kebugaran,
kecantikan, dan kesehatan? Katanya bisa menurunkan risiko penyakit
kardiovaskular dan penyakit yang berhubungan dengan umur. Ayo simak lima kunci rahasianya!
Vitamin C Jeruk adalah gudang vitamin C yang terbaik. Vitamin C dikenal sebagai antioksidan yang berperan melawan gejala-gejala ketuaan atau penyakit yang berhubungan dengan usia. Beberapa penelitian membuktikan bahwa makanan yang mengandung kadar vitamin C tinggi bisa menurunkan risiko terjadinya berbagai jenis kanker dan kerusakan jantung. Vitamin C juga sangat penting dalam sistem imunisasi, terutama selama musim flu.
Asam Folik Jeruk adalah sumber alami asam folik. Penelitian terbaru yang didukung lembaga pengawasan obat dan makanan Amerika (FDA) dan dipublikasikan dalam the American Journal of Clinical Nutrition, memperkirakan bahwa wanita yang tidak memetabolisme asam folik berisiko tinggi melahirkan bayi dengan down syndrome. Karena itu tak heran kalau bisa departemen kesehatan Amerika menganjurkan agar para ibu hamil untuk mengkonsumsi asam folik dalam jumlah cukup. Penelitian lain juga menyebutkan bahwa asam folik bisa membantu mencegah penyakit fatal yang berkaitan dengan usia, seperti penyakit jantung, kanker, bahkan Alzheimer.
Flavonoid, antioksidan yang satu ini pun banyak terdapat dalam jeruk. Seperti diketahui, antioksidan berfungsi untuk menetralisir kerusakan yang disebabkan radikal bebas. Kerusakan radikal bebas ini bisa mengakibatkan berbagai penyakit, termasuk kanker.
Karbohidrat Dalam satu buah jeruk ukuran sedang terdapat 16 gram karbohidrat yang mengandung 70 kalori. Karbohidrat sangat penting sebagai sumber energi tubuh, terutama untuk otak. Juga energi untuk olahraga. Selama berolahraga, otot-otot menggunakan cadangan karbohidrat (glikogen), yang digunakan untuk aktivitas sehari-hari. Konsumsi jeruk setelah berolahraga akan segera mengganti energi yang digunakan.
Serat Nilai serat dalam sebuah jeruk setara dengan 12% yang dibutuhkan per hari. Fungsi serat jelas sangat penting. Antara lain, membantu proses pencernaan. Serat dalam jeruk juga bisa membantu menurunkan kadar kolesterol dalam darah, juga menurunkan risiko penyakit jantung. Jenis serat yang larut dalam air, seperti yang terdapat dalam jeruk, bisa membantu menurunkan rasa lapar. Berita baik untuk mereka yang ingin menurunkan berat badan. (berbagai sumber/susandijani)

Apel Memperlambat Pertumbuhan Kanker

Jumat, 01 September 2000

SUATU pengujian di Cornell University telah menunjukkan bahwa zat-zat kimia alami dalam apel dapat memperlambat pertumbuhan tingkat sel-sel kanker usus dan kanker hati pada manusia. Makin kuat konsentrasi ekstrak-ekstrak apel tersebut, maka tingkat reproduksi sel-sel kanker juga makin lambat, demikian laporan para ilmuwan Cornell dalam jurnal Nature di edisi baru-baru ini.
Efek anti-kanker terkuat ada dalam ekstrak dari apel yang belum dikupas, karena mengandung lebih banyak antioksidan fitokimiawi. Antioksidan yang relatif banyak ditemukan dalam ekstrak apel dapat membantu menjelaskan mekanisme perlindungan terhadap kanker tersebut.
Penelitian ini memang tidak dirancang untuk membuktikan nutrien tertentu apa dalam apel yang dapat melindungi seseorang terhadap kanker atau bagaimana caranya. Oleh karena itu masih terlalu dini untuk mengatakan bahan-bahan apa dalam apel yang menyediakan perlindungan dan bahwa dengan mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran yang cukup merupakan cara terbaik untuk memperendah risiko kanker.
"Namun," kata David Ringer, PhD, direktur program ilmiah di American Cancer Society, "karena kita belum mengetahuinya, cara yang paling pasti untuk mendapatkan perlindungan tersebut adalah dengan mengkonsumsi beragam buah-buahan dan sayur-sayuran setiap hari, dan sedikitnya 5 porsi buah dan sayuran setiap hari. Kami mengetahui hal tersebut dari penelitian-penelitian diet yang amat luas."
Manfaat-manfaat kimia ini tidak hanya diperoleh dari apel saja, namun juga ditemukan dalam tanam-tanaman yang langsung dikonsumsi atau langsung digunakan oleh masyarakat. Contohnya adalah fitokimia dalam teh, tampaknya mampu menghalangi pertumbuhan pembuluh darah yang memberi makan sel-sel kanker, demikian menurut riset di Tufts University, Boston.
Penelitian Cornell menunjukkan bahwa makanan yang amat banyak tersedia ini dapat menyediakan perlindungan antioksidan melawan kanker. Penelitian tersebut juga berguna untuk mengarahkan pada penelitian di masa depan. Para ilmuwan sedang berada dalam tahap awal pengertian dampak fitokimia pada kesehatan manusia.

Sumber: satumed.com, satunet

Wortel Rebus Teryata Tinggi Gizinya

WORTEL ternyata tak hanya efektif dimakan segar. Tapi juga bisa dikukus kemudian dibuat semacam puree kentang. Cara memasak seperti itu terbukti tidak mengurangi nilai gizinya. Bahkan kandungan antioksidannya jadi lebih banyak. Demikian hasil penelitian dari Universitas Arkansas.
Ahli gizi, professor Luke Howard dan asistennya, S.T. Talcott dan C.H. Brenes mengukur kadar antioxidan pada wortel segar dan wortel yang sudah dikukus. Hasilnya wortel yang sudah dikukus mengandung kadar antioksidan lebih tinggi dibanding wortel segar. Hasil penelitian ini juga dilaporkan dalam Journal of Agricultural and Food Chemistry, yang dipublikasikan the American Chemical Society.
"Jadi anggapan sayuran segar itu lebih sehat, tidak selalu benar," tambah Howard.
Howard dan koleganya memasak wortel tersebut dengan dan tanpa kulit luarnya. Kemudian mengukur aktivitas antioksidan selama empat minggu lebih. Parameter yang diukur adalah subtansi antioksidan, seperti asam fenolik dan betakaroten. Seperti diketahui, antioksidan bisa menetralisasi radikal bebas yang menyebabkan berbagai penyakit seperti kanker, Alzheimer, dan masalah pencernaan.
Para peneliti menyebutkan bahwa kadar antioksidan meningkat 34,3% segera setelah proses pemasakan selesai dan bertambah terus selama satu minggu kemudian. Setelah itu menurun, tapi tetap lebih tinggi kadarnya dibanding kadar antioksidan pada wortel mentah.
"Penelitian ini membuktikan bahwa wortel yang sudah diproses ternyata lebih baik untuk mencegah kerusakan oksidatif dibanding wortel mentah," tambah Howard. Tapi, dia juga menyebutkan perlu penelitian lanjutan yang bisa menjelaskan ketersediaan wortel yang sudah dimasak dibanding wortel mentah.
Anda suka yang mana? Paling tidak, kini ada pilihan yang bisa menjadi alternatif, ya? (susandijani